Timnas Indonesia kini tengah memasuki babak baru setelah resmi ditangani pelatih asal Belanda, Patrick Kluivert. Sejak Januari 2025
maniakbola.org –Timnas Indonesia kini tengah memasuki babak baru setelah resmi ditangani pelatih asal Belanda, Patrick Kluivert. Sejak Januari 2025, eks legenda Barcelona itu menggantikan posisi Shin Tae-yong yang sebelumnya membawa banyak perubahan signifikan bagi sepak bola nasional.
Di bawah komando Kluivert, skuad Garuda langsung dihadapkan pada ujian berat. Dua laga krusial di putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia telah menanti pada Oktober mendatang. Indonesia dijadwalkan bertanding menghadapi Arab Saudi pada 9 Oktober di Jeddah, kemudian bersua Irak hanya tiga hari berselang pada 12 Oktober 2025 di tempat yang sama.
Kedua lawan tersebut bukanlah tim sembarangan. Arab Saudi merupakan salah satu kekuatan tradisional Asia yang konsisten tampil di Piala Dunia, sedangkan Irak juga dikenal memiliki kedisiplinan serta fisik kuat. Tantangan besar inilah yang membuat Kluivert mengambil sejumlah keputusan mengejutkan dalam pemilihan pemain.
Selain tidak menyertakan dua nama populer seperti Marselino Ferdinan dan Mees Hilgers, Kluivert juga mengabaikan beberapa pemain yang sebelumnya dianggap sebagai “anak emas” Shin Tae-yong. Mereka adalah sosok-sosok yang sempat menjadi pilar penting Garuda, namun kini justru tak masuk dalam rencana besar pelatih baru.
Lalu siapa saja pemain yang dimaksud? Berikut empat nama yang nasibnya berubah drastis sejak era kepelatihan beralih dari Shin Tae-yong ke Patrick Kluivert.
1. Pratama Arhan
Di era Shin Tae-yong, nama Pratama Arhan hampir selalu menjadi bagian penting Timnas Indonesia. Bek kiri asal Blora ini mencatatkan 50 caps, seluruhnya ketika Shin memimpin Garuda. Ia bahkan dikenal sebagai salah satu pemain paling sering tampil di berbagai kompetisi internasional bersama tim Merah Putih.
Arhan tidak hanya dikenal sebagai bek kiri yang rajin bertahan dan naik membantu serangan. Lemparan ke dalam jarak jauhnya sering kali menjadi senjata mematikan, bahkan beberapa kali menghasilkan gol. Fleksibilitasnya menempati berbagai posisi membuat Shin menjadikannya sosok yang nyaris tak tergantikan.
Namun, segalanya berubah setelah Patrick Kluivert datang. Sejak Januari 2025, Arhan sama sekali belum mendapat menit bermain di bawah arahan sang pelatih baru. Padahal, pada FIFA Matchday Maret dan Juni 2025, ia tetap dipanggil ke dalam skuad. Sayangnya, meski berlatih bersama tim, ia tidak pernah masuk daftar line-up resmi.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar. Apakah gaya bermain Arhan dianggap tidak cocok dengan strategi Kluivert? Atau ada alasan teknis lain yang membuatnya terpinggirkan? Yang jelas, saat ini Arhan harus berjuang keras merebut kembali kepercayaan, baik di level klub maupun timnas.
2. Asnawi Mangkualam
Jika berbicara tentang era Shin Tae-yong, sulit melewatkan nama Asnawi Mangkualam. Mantan pemain PSM Makassar ini bukan hanya pilar di lapangan, tetapi juga sempat dipercaya mengenakan ban kapten Timnas Indonesia, baik di level senior maupun kelompok usia. Total, ia mengoleksi 46 caps, hampir seluruhnya ketika Shin masih berkuasa.
Perannya begitu vital karena selain kuat bertahan, Asnawi juga dikenal agresif membantu serangan dari sisi kanan. Kecepatan, determinasi, dan kepemimpinannya menjadikan dirinya sebagai salah satu simbol generasi baru Garuda.
Namun, sama seperti Arhan, posisi Asnawi juga mulai meredup di bawah Kluivert. Pada laga melawan Australia (kalah 1-5) maupun saat menang tipis atas Bahrain (1-0), ia tidak dimainkan. Bahkan ketika Indonesia menghadapi China dan Jepang, namanya tetap dipanggil, tetapi hanya duduk di luar daftar pemain.
Situasi di level klub pun tak jauh berbeda. Bersama Port FC di Liga Thailand, Asnawi belum mendapatkan menit bermain reguler. Sejak awal musim, ia baru dua kali bermain penuh selama 90 menit. Persaingan di lini belakang Port FC memang sangat ketat, dengan adanya pemain berpengalaman seperti Kevin Diks, Sandy Walsh, Eliano Reijnders, hingga Yakob Sayuri.
Kondisi inilah yang membuat peluang Asnawi semakin tipis. Tanpa performa konsisten di klub, sulit bagi dirinya untuk kembali menjadi pilihan utama Kluivert di timnas.
3. Ivar Jenner
Nama berikutnya adalah Ivar Jenner, gelandang tengah yang sempat menjadi salah satu kepercayaan Shin Tae-yong. Ia dikenal memiliki visi bermain bagus, distribusi bola rapi, serta ketenangan dalam mengatur tempo.
Sayangnya, sejak beberapa bulan terakhir, Jenner lebih banyak berkutat dengan masalah cedera. Kondisi fisiknya membuat ia harus menepi cukup lama. Bahkan, pada laga Jong Utrecht baru-baru ini, ia tidak masuk dalam daftar skuad.
Ketidakhadirannya bukan hanya karena keputusan pelatih, tetapi lebih kepada masalah kebugaran. Jenner juga sudah absen sejak FIFA Matchday September, sehingga wajar apabila Kluivert tak memasukkannya ke daftar pemain untuk menghadapi Arab Saudi dan Irak.
Meski demikian, publik tetap berharap gelandang muda keturunan Belanda itu segera pulih. Dengan gaya main yang modern, ia masih berpotensi menjadi bagian penting Garuda di masa depan apabila kembali ke kondisi terbaiknya.
4. Rafael Struick
Rafael Struick menjadi nama terakhir dalam daftar ini. Penyerang muda yang kini membela Dewa United di BRI Super League itu sebelumnya merupakan langganan Timnas Indonesia era Shin Tae-yong. Kecepatan dan naluri mencetak gol membuatnya cukup sering dipanggil.
BACA JUGA : Hasil Arema FC vs Persib Bandung: Pangeran Biru Bungkam Singo Edan Meski Bermain 10 Pemain
Namun, performanya di musim ini belum konsisten. Struick dianggap tidak memenuhi kebutuhan taktik Patrick Kluivert yang lebih menekankan efektivitas dan daya dobrak. Akibatnya, ia harus rela tersingkir dari daftar panggilan untuk laga Oktober.
Sebagai gantinya, Kluivert memberikan kesempatan kepada dua pemain naturalisasi baru, yakni Mauro Zijlstra dan Miliano Jonathans. Kehadiran keduanya diharapkan mampu memberi warna baru di lini depan serta menambah opsi variasi serangan Garuda.
Bagi Struick, keputusan ini tentu menjadi tamparan keras. Ia perlu menunjukkan performa lebih meyakinkan bersama klubnya jika ingin kembali dilirik timnas di masa mendatang.
Penutup
Perubahan besar yang dilakukan Patrick Kluivert jelas menunjukkan bahwa ia ingin membangun identitas baru bagi Timnas Indonesia. Meski beberapa pemain yang dulu menjadi pilar di era Shin Tae-yong kini tersisih, bukan berarti pintu mereka benar-benar tertutup.
Pratama Arhan, Asnawi Mangkualam, Ivar Jenner, dan Rafael Struick tetap memiliki kualitas mumpuni. Namun, mereka perlu membuktikan diri kembali di level klub agar layak dipercaya dalam skuad Garuda.
Persaingan di level internasional memang tidak mengenal kata kompromi. Setiap pemain dituntut menjaga performa terbaik, karena siapa pun bisa digantikan jika tidak konsisten. Keputusan Kluivert mungkin terasa pahit bagi sebagian pemain dan fans, tetapi hal tersebut juga bagian dari dinamika sepak bola modern yang menuntut adaptasi cepat.
Kini, semua mata tertuju pada bagaimana Kluivert meracik strategi menghadapi dua lawan tangguh, Arab Saudi dan Irak. Apakah tanpa kehadiran para “anak emas” Shin Tae-yong, Garuda tetap mampu memberi kejutan? Jawabannya akan segera terungkap di atas lapangan pada Oktober mendatang.
maniakbola.org Kegagalan Timnas Jerman di Piala Dunia 2026 masih menyisakan luka mendalam bagi para pendukung…
maniakbola.org Babak gugur selalu menghadirkan cerita yang berbeda di Piala Dunia. Tidak ada lagi ruang…
maniakbola.org Babak penyisihan dan fase 32 besar telah berlalu. Kini, panggung terbesar sepak bola dunia…
maniakbola.org Perjalanan Kroasia di Piala Dunia 2026 berakhir lebih cepat dari yang dibayangkan banyak pihak.…
maniakbola.org Portugal berhasil melangkah ke babak berikutnya setelah menyingkirkan Kroasia dengan skor tipis 2-1 pada…
maniakbola.org Harapan besar yang sempat mengiringi perjalanan negara-negara Asia di Piala Dunia 2026 akhirnya harus…