maniakbola.org- Keberhasilan Arsenal menjuarai Premier League musim 2025/2026 bukan hanya soal trofi. Lebih dari itu, kemenangan tersebut menjadi simbol bahwa kesabaran, proyek jangka panjang, dan kepercayaan terhadap proses pada akhirnya bisa membuahkan hasil. Setelah menunggu selama 22 tahun sejak era “Invincibles” racikan Arsene Wenger, Arsenal akhirnya kembali berdiri di puncak sepak bola Inggris.
Momen itu terasa semakin emosional karena gelar datang setelah bertahun-tahun tekanan, kritik, hingga ejekan dari rival-rival mereka. Namun kini, pertanyaan besar justru mengarah ke klub lain yang masih terjebak dalam penantian panjang: Manchester United.
Sebagai klub tersukses di era Premier League, Manchester United tentu tidak terbiasa hidup tanpa trofi liga. Akan tetapi, sejak terakhir kali juara pada musim 2012/2013 — musim terakhir Sir Alex Ferguson sebelum pensiun — Setan Merah terus mengalami pasang surut yang melelahkan.
Kini, setelah Arsenal memutus kutukan 22 tahun dan Liverpool sebelumnya mengakhiri penantian 30 tahun pada 2020, muncul pertanyaan yang terus menghantui para fans MU: kapan giliran mereka?
Arsenal Membuktikan Proyek Jangka Panjang Masih Relevan
Kesuksesan Arsenal musim ini terasa spesial karena datang melalui proses panjang yang tidak instan. Klub London Utara itu beberapa kali nyaris juara dalam beberapa musim terakhir, tetapi selalu gagal di momen penentuan.
Musim demi musim, tim asuhan Mikel Arteta terus berkembang. Mereka sempat dianggap terlalu muda, terlalu rapuh, bahkan dianggap belum siap menghadapi tekanan perebutan gelar. Namun semua kritik itu perlahan dijawab dengan konsistensi.
Tiga musim beruntun finis runner-up ternyata menjadi fondasi penting sebelum akhirnya Arsenal benar-benar matang sebagai tim juara. Stabilitas taktik, kedalaman skuad, serta perkembangan pemain muda seperti Bukayo Saka dan Martin Odegaard menjadi faktor kunci keberhasilan mereka.
Yang menarik, keberhasilan Arsenal juga memperlihatkan bahwa di tengah era sepak bola modern yang serba instan, proyek jangka panjang ternyata masih bisa berhasil jika manajemen klub tetap sabar dan konsisten.
Liverpool Pernah Menunggu Lebih Lama
Jika Arsenal harus menunggu 22 tahun, maka Liverpool punya cerita yang lebih dramatis lagi. Klub Merseyside itu mengalami puasa gelar liga selama 30 tahun sebelum akhirnya kembali juara pada musim 2019/2020 bersama Jurgen Klopp.
Selama tiga dekade, Liverpool berkali-kali gagal di momen penting. Ada generasi fans yang tumbuh tanpa pernah melihat tim kesayangannya menjadi juara Inggris.
Namun semuanya berubah ketika Klopp datang dan membangun proyek yang jelas. Perekrutan pemain seperti Virgil van Dijk, Alisson Becker, hingga Mohamed Salah terbukti menjadi investasi yang sangat tepat.
Liverpool saat itu tidak hanya menjadi juara, tetapi juga sempat dianggap sebagai salah satu tim terbaik di dunia. Mereka bahkan mampu bersaing secara langsung dengan dominasi Manchester City era Pep Guardiola.
Dua kisah dari Arsenal dan Liverpool memberi satu pesan penting: bahkan klub besar pun bisa mengalami masa paceklik panjang. Namun, penantian itu tetap bisa berakhir jika arah proyek klub benar.
Manchester United dan Luka Panjang Setelah Ferguson
Masalah terbesar Manchester United selama 13 tahun terakhir sebenarnya bukan hanya soal gagal juara. Yang paling menyakitkan bagi fans adalah tidak adanya identitas yang konsisten sejak kepergian Ferguson.
MU sudah mencoba banyak pelatih. Dari David Moyes, Louis van Gaal, Jose Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer, Erik ten Hag, hingga kini Michael Carrick. Namun, tidak ada yang benar-benar mampu mengembalikan aura dominasi klub.
Beberapa musim memang sempat memberikan harapan. Pada era Solskjaer, MU finis sebagai runner-up Premier League musim 2020/2021. Saat itu, banyak yang percaya mereka mulai bangkit.
Namun harapan itu cepat runtuh. Performa inkonsisten, masalah ruang ganti, hingga perekrutan pemain yang kurang tepat membuat MU kembali terpuruk.
Situasi serupa terjadi pada era Erik ten Hag. Setelah musim pertama yang cukup menjanjikan, performa Setan Merah kembali anjlok pada musim berikutnya.
Karena itulah, muncul optimisme baru ketika Michael Carrick mulai menunjukkan perkembangan signifikan musim ini.
Michael Carrick Membawa Harapan Baru
Di bawah kepemimpinan Michael Carrick, Manchester United terlihat jauh lebih stabil dibanding beberapa musim sebelumnya.
Dalam 16 pertandingan terakhir Premier League, MU disebut menjadi tim dengan perolehan poin terbaik. Statistik tersebut tentu menjadi sinyal bahwa ada perkembangan nyata di Old Trafford.
Carrick dinilai berhasil menghadirkan suasana baru di ruang ganti. Permainan MU mulai terlihat lebih terorganisir, lebih disiplin, dan tidak terlalu bergantung pada momen individu.
Selain itu, perekrutan pemain juga mulai terlihat lebih masuk akal. Nama-nama seperti Senne Lammens, Matheus Cunha, Bryan Mbeumo, dan Benjamin Sesko dianggap memberikan fondasi yang lebih sehat untuk masa depan.
Berbeda dengan era sebelumnya yang kerap membeli pemain mahal tanpa arah jelas, proyek kali ini terlihat lebih terstruktur.
Project 150: Target Juara Tahun 2028
Salah satu hal yang membuat fans MU mulai optimistis adalah keberadaan “Project 150” yang dicanangkan manajemen INEOS.
CEO Omar Berrada disebut memiliki target membawa MU kembali menjadi juara Premier League pada tahun 2028, bertepatan dengan ulang tahun klub yang ke-150.
Target tersebut memang terdengar ambisius, tetapi bukan sesuatu yang mustahil.
Premier League saat ini tidak lagi didominasi satu tim secara absolut seperti beberapa tahun lalu. Ketika Manchester City berada di puncak performa, standar juara sering mencapai 95 hingga 100 poin.
Kini situasinya berbeda.
Liverpool musim lalu juara dengan 84 poin, sedangkan Arsenal musim ini maksimal hanya bisa mencapai 85 poin. Artinya, persaingan liga mulai lebih terbuka dan tidak lagi membutuhkan nyaris kesempurnaan untuk menjadi juara.
Selain itu, City juga diprediksi memasuki masa transisi setelah kabar kepergian Pep Guardiola semakin menguat. Liverpool mulai mengalami penurunan performa, sementara Chelsea bersama Xabi Alonso masih belum sepenuhnya stabil.
Situasi inilah yang membuat peluang MU terasa lebih realistis dibanding beberapa tahun lalu.
MU Masih Punya Banyak Kekurangan
Meski begitu, optimisme saja tidak cukup. Fakta di lapangan menunjukkan Manchester United masih memiliki banyak pekerjaan rumah.
Jarak 14 poin dari Arsenal musim ini menjadi bukti bahwa MU belum benar-benar setara dengan tim juara.
Selain itu, musim depan kemungkinan akan menjadi tantangan yang jauh lebih berat. Salah satu alasan MU bisa tampil lebih konsisten musim ini adalah karena jumlah pertandingan mereka relatif sedikit, hanya sekitar 40 laga sepanjang musim.
BACA JUGA : Neymar Menangis Berjam-jam Setelah Dipanggil Brasil untuk Piala Dunia 2026
Jika kembali tampil di Liga Champions musim depan, jadwal akan jauh lebih padat. Beban pertandingan bisa bertambah hingga 15-20 laga tambahan.
Di sinilah kualitas skuad akan benar-benar diuji.
MU masih membutuhkan gelandang bertahan baru sebagai penerus Casemiro. Kedalaman skuad juga harus diperbaiki agar tim tidak mudah runtuh ketika pemain inti cedera atau kelelahan.
Hal lain yang menjadi perhatian adalah mentalitas. Selama bertahun-tahun, MU sering terlihat kehilangan arah ketika menghadapi tekanan besar. Tim ini masih harus membuktikan bahwa mereka mampu bersaing secara konsisten sepanjang musim, bukan hanya tampil bagus dalam beberapa bulan saja.
Apakah MU Akan Menyusul Arsenal dan Liverpool?
Jika melihat sejarah, Manchester United sebenarnya masih “lebih cepat” dibanding Arsenal dan Liverpool dalam hal lama puasa gelar.
Arsenal menunggu 22 tahun. Liverpool 30 tahun. MU saat ini baru memasuki tahun ke-13 tanpa trofi Premier League.
Namun, tekanan terhadap MU jauh lebih besar karena standar klub ini memang berbeda. Fans Manchester United terbiasa melihat tim mereka mendominasi Inggris selama dua dekade era Ferguson.
Karena itu, satu musim gagal saja sering terasa seperti krisis besar.
Melihat arah proyek saat ini, peluang MU kembali juara memang mulai terlihat. Carrick membawa pendekatan yang lebih segar, manajemen tampak lebih terorganisir, dan kompetisi liga juga lebih terbuka.
Akan tetapi, sejarah beberapa tahun terakhir mengajarkan bahwa optimisme di Old Trafford sering kali berujung kekecewaan.
Musim 2026/2027 kemungkinan akan menjadi momen penentu. Jika MU mampu terus berkembang dan benar-benar bersaing di papan atas hingga akhir musim, maka target juara tahun 2028 bukan sekadar mimpi kosong.
Namun jika kembali inkonsisten, penantian itu bisa bertambah jauh lebih lama.
Penutup
Arsenal akhirnya membuktikan bahwa penantian 22 tahun bisa berakhir. Liverpool juga pernah menunjukkan bahwa bahkan kutukan 30 tahun sekalipun dapat dipatahkan.
Kini, Manchester United berada di persimpangan yang sangat penting.
Setan Merah mulai memiliki fondasi baru, arah proyek yang lebih jelas, dan peluang yang lebih terbuka dibanding beberapa musim sebelumnya. Namun, membangun kembali kejayaan tidak pernah mudah, terutama di Premier League yang semakin kompetitif.
Apakah MU benar-benar sedang menuju kebangkitan besar bersama Michael Carrick dan Project 150? Atau justru kembali menciptakan harapan palsu seperti tahun-tahun sebelumnya?
Jawabannya kemungkinan akan mulai terlihat musim depan. Dan bagi jutaan fans Manchester United di seluruh dunia, penantian itu jelas terasa semakin panjang setiap tahunnya.




