Manchester United dikenal sebagai klub besar dengan sejarah panjang dan dukungan finansial yang sangat kuat.
maniakbola.org- Manchester United dikenal sebagai klub besar dengan sejarah panjang dan dukungan finansial yang sangat kuat. Namun, status itu tidak selalu menjamin keberhasilan dalam aktivitas transfer. Salah satu periode yang menjadi sorotan kelam dalam sejarah transfer klub adalah musim panas 2015/16.
Di bawah arahan manajer Louis van Gaal saat itu, Setan Merah menggelontorkan dana besar untuk mendatangkan enam pemain anyar dengan harapan membangun kembali kekuatan tim pasca era Sir Alex Ferguson. Sayangnya, sebagian besar rekrutan tersebut gagal bersinar, bahkan banyak yang mengalami kemunduran drastis dalam kariernya.
Kini, hampir satu dekade berlalu, bagaimana nasib keenam pemain yang direkrut MU pada musim panas 2015? Mari kita simak perjalanan karier mereka yang penuh liku, dari Yunani hingga Brasil.
Pada musim panas 2015, Manchester United mengejutkan dunia dengan mengeluarkan 36 juta poundsterling untuk mendatangkan Anthony Martial dari AS Monaco. Saat itu, Martial bahkan menyandang status sebagai remaja termahal dunia, sebuah beban besar untuk seorang pemain berusia 19 tahun.
Martial sempat mencetak gol ikonik ke gawang Liverpool dalam debutnya yang membuat para fans bersorak penuh harapan. Namun, performanya tidak pernah benar-benar konsisten. Cedera, perubahan pelatih, hingga ketidakjelasan posisi membuat kariernya di Old Trafford naik-turun. Meski sempat menunjukkan potensi besar di beberapa musim, ia tak pernah mampu menjelma menjadi andalan utama.
Setelah sempat dipinjamkan ke Sevilla pada 2022 tanpa hasil signifikan, Martial akhirnya dilepas gratis oleh MU pada 2024. Kini, di usia 29 tahun, ia mencoba menghidupkan kembali kariernya bersama AEK Athens di Liga Yunani. Ironisnya, dari status sebagai calon bintang dunia, Martial kini hanya menjadi sorotan sesaat di kompetisi kasta kedua Eropa.
Morgan Schneiderlin adalah salah satu pemain favorit Van Gaal saat ia tampil impresif bersama Southampton. MU mengeluarkan 25 juta poundsterling untuk memboyong gelandang bertahan asal Prancis ini dengan harapan menguatkan lini tengah yang kala itu butuh stabilitas.
baca juga : Manchester United 4-1 Bournemouth: 5 Pemenang & 1 Pecundang di Balik Gemuruh Pramusim Setan Merah
Namun, Schneiderlin gagal beradaptasi dengan ekspektasi dan tekanan di Old Trafford. Ia hanya bertahan 1,5 musim sebelum dijual ke Everton pada 2017. Setelah masa singkat di Merseyside, kariernya terus menurun dengan bermain untuk Nice di Ligue 1, lalu sempat hijrah ke Konyaspor (Turki) dan AE Kifisia (Yunani).
Pada tahun 2024, di usia 34 tahun, Schneiderlin memutuskan untuk pensiun. Namanya menghilang tanpa banyak disorot media, menjadi contoh nyata bahwa tidak semua pemain mampu mentas di panggung besar seperti Manchester United.
Datang dengan reputasi sebagai bintang muda Belanda, Memphis Depay digadang-gadang menjadi pewaris nomor punggung legendaris MU, yakni nomor 7. Namun, tekanan justru menjadi bumerang. Performa Depay inkonsisten, dan ia gagal tampil cemerlang di Premier League.
Setelah dua musim mengecewakan, MU melepasnya ke Lyon pada 2017. Di Prancis, Depay menemukan kembali bentuk terbaiknya, bahkan dipercaya menjadi kapten klub. Keberhasilan ini membawanya ke klub besar seperti Barcelona dan Atletico Madrid, namun di sana pun ia kesulitan menjaga konsistensi dan tempat utama.
Kini, pada 2025, Depay telah meninggalkan Eropa dan bermain untuk Corinthians di Brasil. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak, namun seolah menggambarkan penurunan karier seorang pemain yang sempat dijuluki “the next Cristiano Ronaldo”.
Matteo Darmian bisa dibilang sebagai salah satu transfer “aman” Manchester United. Bek asal Italia ini didatangkan dari Torino dengan kemampuan bermain di berbagai posisi lini belakang. Ia tidak tampil luar biasa, tetapi juga tidak buruk.
Darmian mencatatkan hampir 100 penampilan untuk MU selama empat tahun sebelum kembali ke Italia pada 2019 dengan bergabung ke Parma. Ia kemudian direkrut Inter Milan dan sukses menambah koleksi trofinya, termasuk Scudetto Serie A bersama Nerazzurri di bawah Antonio Conte.
Kini, di usia 35 tahun, Darmian masih menjadi bagian penting dari skuat Inter. Meski tidak spektakuler, ia adalah satu dari sedikit rekrutan 2015 yang mampu menjaga performa di level tertinggi hingga saat ini.
Nama besar Bastian Schweinsteiger membuat fans MU sangat antusias ketika ia didatangkan dari Bayern Munich. Dengan status legenda Jerman dan segudang pengalaman, ia diharapkan menjadi pemimpin lapangan tengah MU.
Sayangnya, cedera dan usia yang tak lagi muda menghalangi langkahnya. Ia lebih sering duduk di bangku cadangan atau ruang perawatan daripada di lapangan. Schweinsteiger hanya tampil 35 kali untuk United sebelum akhirnya dilepas ke Chicago Fire di MLS.
Ia mengakhiri kariernya di Amerika Serikat dan pensiun pada 2019. Meski tetap dikenang sebagai ikon Bayern dan timnas Jerman, masa baktinya di MU menjadi catatan muram dalam sejarah kariernya.
Dari semua rekrutan musim panas 2015, Sergio Romero mungkin adalah satu-satunya pemain yang bisa disebut sebagai rekrutan sukses — meskipun perannya hanya sebagai pelapis.
Romero datang secara gratis dari Sampdoria dan menghabiskan enam musim di Old Trafford. Ia tampil dalam 61 laga, sebagian besar di ajang piala. Setiap kali dipanggil, Romero tampil solid dan bahkan membantu MU menjuarai Liga Europa 2016/17.
Setelah kontraknya berakhir, ia bergabung dengan Venezia di Italia sebelum akhirnya kembali ke Argentina dan bermain untuk Boca Juniors. Hingga kini, di usia 37 tahun, Romero masih aktif bermain dan menjadi panutan di negaranya. Loyalitas dan profesionalismenya patut dicontoh oleh pemain muda.
Melihat nasib enam pemain yang direkrut MU pada musim 2015/16, jelas bahwa manajemen transfer saat itu tidak berjalan sesuai harapan. Hanya satu-dua pemain yang bisa dianggap “tidak gagal total”, sisanya justru mengalami kemunduran karier setelah bergabung dengan klub sebesar Manchester United.
Dengan MU kembali aktif di bursa transfer musim panas 2025 dan baru saja mendatangkan Bryan Mbeumo dari Brentford, para fans tentu berharap manajemen klub telah belajar dari kesalahan masa lalu. Ketepatan dalam memilih pemain, menyesuaikan kebutuhan taktik, dan menilai karakter adalah kunci utama kesuksesan transfer, bukan hanya label harga atau popularitas semata.
maniakbola.org Kegagalan Timnas Jerman di Piala Dunia 2026 masih menyisakan luka mendalam bagi para pendukung…
maniakbola.org Babak gugur selalu menghadirkan cerita yang berbeda di Piala Dunia. Tidak ada lagi ruang…
maniakbola.org Babak penyisihan dan fase 32 besar telah berlalu. Kini, panggung terbesar sepak bola dunia…
maniakbola.org Perjalanan Kroasia di Piala Dunia 2026 berakhir lebih cepat dari yang dibayangkan banyak pihak.…
maniakbola.org Portugal berhasil melangkah ke babak berikutnya setelah menyingkirkan Kroasia dengan skor tipis 2-1 pada…
maniakbola.org Harapan besar yang sempat mengiringi perjalanan negara-negara Asia di Piala Dunia 2026 akhirnya harus…